Orang Tua Bertanggung Jawab vs Bejat

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS An-Nisa 4 : 9)

Saya berbincang ngalor ngidul dengan seorang kawan. Dan ketika saya bertanya “sekiranya kamu dikasih kesempatan memutar waktu, apa yang ingin kamu perbaiki,” jawabannya sungguh membuat saya kaget. “Saya ingin punya anak tak lebih dari dua orang. Punya anak banyak ternyata berat,” ujarnya. Wow, jawabannya seperti menyesal punya anak banyak.

“Bukankah banyak anak banyak rezeki,” timpal saya. “Itu pemikiran kuno,” ujar dia. “Banyak anak banyak rezeki adalah konsep yang berorientasi kepentingan orang tua, bukan kepentingan anak,” lanjutnya.

Pemikiran kawan ini sungguh tidak Indonesia banget, melawan arus pendapat umum selama ini, begitu pikiran saya selintas.

Tapi saya tak mau menghakimi. Karena saya tahu, kawan ini sangat baik pada anak-anaknya. Dia memberikan layanan terbaik pada kebutuhan anak-anaknya, mulai dari pendidikan, hobi, gizi, kesehatan, dan sebagainya. Dia juga sangat berbakti pada orang tuanya. Tentu saya akan berdosa besar jika menganggap kebaikan dia pada anaknya dan orang tuanya sebagai sebuah ketidak-ikhlasan, sebuah keterpaksaan, hanya karena pemikiran dia yang “aneh” itu.

Karena itu, alih-alih menuduh dia, saya mencoba mempertanyakan pandangan mapan saya, “Jangan-jangan pandangan saya dan pandangan mayoritas orang Indonesia yang keliru.”

Dalam perenungan itu, saya menemukan dua hal positif dalam pandangan kawan tersebut. Pertama, pandangan dia yang “aneh” itu pada dasarnya adalah refleksi dari sikap orang tua yang sangat bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Sekiranya dia memiliki anak lebih sedikit, tak lebih dari dua orang, maka dia akan lebih maksimal memberikan layanan terbaik terhadap anak-anaknya.

Kedua, dia tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya ketika dia tua kelak, atau menganggap anaknya sebagai sumber rezeki bagi dirinya. Dia memberikan layanan terbaik pada anak-anaknya tak dibarengi oleh embel-embel pamrih bahwa anak-anaknya kelak harus membalas kebaikan orang tuanya. Atau melayani dia pada saat tua nanti. Anak bukan investasi yang kelak harus memberikan keuntungan balik terhadap dirinya. Dia tidak ingin menuntut hal tersebut. Tapi jika anak-anaknya memberikan layanan terbaik pada dirinya, itu bonus saja.

Dengan kesimpulan demikian, maka saya berasumsi bahwa kawan saya ini sungguh orang tua ideal. Orang tua yang begitu ikhlas memberikan kasih sayang dan layanan terbaik kepada anak-anaknya. Yang dia pikirkan adalah murni kepentingan anak-anaknya, bukan kepentingan dirinya sendiri sebagai orang tua.

Bertanggung Jawab vs Bejat

Merenungi konsep tanggung jawab orang tua, pikiran saya melayang pada kebejatan beberapa orang tua terhadap anak-anaknya. Ada ayah yang tega memperkosa darah dagingnya sendiri. Ada ibu yang tega menyiksa anaknya sebagai pelampiasan marah karena suaminya tidak bertanggung jawab. Ada orang tua yang mengajak anak balitanya mengemis di pinggir jalan. Ada orang tua yang rela menjual anak gadisnya demi alasan ekonomi. Juga ada orang tua yang mencampakkan anaknya begitu saja. Dan kasus kebejatan lainnya yang sering kita temui di era super canggih ini. 

Perangi bejat orang tua terhadap anak ini mengaburkan anggapan luhur yang sering diulang-ulang oleh banyak orang, bahwa sayang ibu sepanjang masa, sayang ayah sepanjang jalan. Dalam kasus kebejatan tersebut, kita tak menemukan unsur kasih sayang pada anak, apalagi unsur tanggung jawab dan pelayanan terbaik terhadap anak. Yang ada adalah unsur eksploitasi, memenuhi kebutuhan birahi sendiri, dan melihat anak sebagai barang yang bisa mendatangkan keuntungan. Kalau meminjam bahasa kawan saya tadi, orang tua bejat tersebut adalah gambaran orang tua yang tidak bertanggung jawab, mengambil keuntungan dari anak-anaknya, tak hanya keuntungan ekonomi, tapi juga keuntungan birahi.

Memberikan layanan terbaik terhadap anak di era sekarang memang penuh tantangan. Kewajiban orang tua terhadap anak tak sekedar menjamin mereka tidak lapar. Kebutuhan anak yang harus dipenuhi sangat banyak, baik yang bersifat batin, fisik, maupun kognitif. Kebutuhan batin mencakup perhatian, kasih sayang. Kebutuhan fisik mencakup permakanan, gizi, dan pemeliharaan kesehatan. Sementara kebutuhan kognitif mencakup pendidikan, baik formal maupun informal, baik yang bersifat knowledge maupun skill. 

Kebutuhan batin, memberikan perhatian dan kasih sayang, adalah hal yang sangat fundamental bagi tumbuh kembang anak. Orang tua harus menyediakan waktu untuk memenuhi kebutuhan batin anak. Orang tua super sibuk, yang mengurus banyak bisnis dan kegiatan, sering abai dalam memenuhi kebutuhan ini. Mereka menganggap sudah lepas kewajiban terhadap anak ketika memberikan belanja yang cukup, gizi sempurna, pendidikan mahal, kursus ini itu, dan sebagainya. Banyak anak-anak dari keluarga kaya jadi korban narkoba, berandalan, menjadi residivis, karena alasan tak mendapat kasih sayang dari orang tua.

Di bidang kebutuhan kognitif, biaya pendidikan di era sekarang sungguh sangat mahal. Betul bahwa sekolah negeri, sekolah pemerintah, gratis dalam beberapa hal. Tapi dalam beberapa item tetap ada kewajiban bayar. Artinya, tidak gratis-gratis amat. Masih ada unsur bayar-bayarnya. Selain itu, daya serap sekolah negeri sangat sedikit dibanding jumlah siswa yang harus bersekolah. Dan, mohon maaf, faktanya, sekolah negeri yang berkualitas bagus masih sangat sedikit. Sehingga, orang tua yang ingin memberikan pelayanan terbaik di bidang pendidikan kepada anaknya lebih memilih sekolah swasta, yang biaya pendidikannya nauzubilllah sangat mahal. Belum lagi biaya pendidikan informal.

Artinya apa? Semakin banyak anak, maka biaya pendidikan yang harus dipenuhi juga makin besar. Begitu juga kebutuhan fisik, yang mencakup makanan, gizi, dan biaya kesehatan. Kebutuhan belanja meningkat jika anak semakin banyak. Itu kalau berkomitmen menjadi orang tua yang memberikan palayanan terbaik terhadap anak. 

Dalam konteks ini, maka pemikiran kawan saya tadi menemui kebenarannya, “banyak anak itu berat.” Berat apa? Pertama, memberatkan waktu karena anda harus meluangkan waktu demi memberikan perhatian dan kasih sayang. Semakin banyak anak maka waktu yang harus disisihkan untuk mereka juga semakin banyak. Kedua, memberatkan ekonomi karena biaya pendidikan dan kebutuhan fisik di era sekarang sangat mahal. Ketiga, memberatkan perasaan. Semakin banyak anak, semakin beragam karakter dan perangai mereka yang harus dihadapi. Itu ujian kesabaran yang serius bagi orang tua. 

Dalam kenyataannya, banyak orang tua yang stress karena urusan kebutuhan dan karakter anak. Akibat stress demi stress datang melanda, pribadi yang baik berubah menjadi buruk. Tak sedikit orang tua yang tadinya baik terhadap anak, berubah menjadi penyebab penderitaan bagi darah dagingnya.

Bagi yang sudah terlanjur punya anak banyak, semoga selalu mampu berbuat maksimal menjadi orang tua bertanggung jawab, mampu memberikan layanan terbaik terhadap anak-anak. Seberat apapun beban yang harus dipikul, semoga tidak sampai jadi orang tua bejat. 

Dalam agama Islam, anak adalah titipan Ilahi. Semua model pengasuhan dan layanan kita terhadap anak akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anak kita sehingga bisa selamat menghadapi pengadilan Ilahi nanti. Semoga. 

*Afriadi Rosdi, Direktur RMBooks. Pernah jadi relawan Perlindungan Anak Kemensos RI tahun 2005-2006.

Rate this item
(0 votes)

Super User

Joomla! and Open Source fan. In spare time he writes the blog posts about Joomla Tutorials including reviews of popular Joomla Templates, Extensions and services. If you have started learning Joomla just buzz him via Skype, He would be glad to help you :).

Twitter: http://www.twitter.com/joomlashine
Facebook: http://www.facebook.com/joomlashine

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

 

Layanan

  • Design
  • Editing
  • Ghostwriting
  • POD

Contact Us

Gedung Pers Graha Pena Lt. 1
Jl. Kebayoran Lama No. 12
Jakarta Selatan
Telphone : 021-5635 1495
Email : Semesta.rame@gmail.com

 
Template by JoomlaShine